Les Freres Ferre
Sebuah Dialog dalam Musik Gipsi Jazz
Ovi Oktaviani
Dialog tidak melulu harus terjadi lewat kata-kata. Musik pun bisa mengambil peran kata untuk membangun dialog. Saling timpal lewat petikan gitar bisa menjadi ajang dialog yang indah dan menghanyutkan.
Freres Ferre atau Ferre bersaudara mewujudkan dialog ini saat konser di GKJ, Selasa (3/6)). Musik gipsi jazz menjadi pengaruh utama dalam musik dengan medium gitar tersebut.
“Musik kami kami analogikan sebagai sebuah dialog. Musik India adalah acuan kami dalam bermain, karena dalam musik ini sering terjadi dialog. Kami perhatikan, mereka suka memilih tema bersama dan bercakap-cakap dalam musik,” tutur Boulou Ferre, salah seorang dari Ferre bersaudara kepada wartawan usai konser.
Menurut Boulou, unsur dialog dalam musik India inilah yang menginspirasi mereka untuk berdialog di atas panggung.
Aksi dialog memang tampak ketika gitar Boulou ‘bersahut-sahutan’ dengan gitar Elios, saudara Boulou. Tak ada permainan gitar secara tunggal. Keduanya bermain dengan asik, tak ubahnya seperti dua orang yang sedang bercakap-cakap. “No singularity,” demikian ucap Boulou.
Menurut Elios, karena dialog ini pula, tidak ada genre musik tertentu yang mewarnai konser mereka. Mereka menyisipkan klasik, jazz, musik improvisasi keluarga mereka, pengalaman dan beberapa lagu dari penyanyi terkenal Perancis. Jadilah konser dipenuhi oleh improvisasi musik dan dari berbagai macam aliran.
“Kami tidak bisa membuat songlist dari konser kami, karena musik bagi kami mengalir seperti percakapan. Konser kami besok pun (hari ini) di Black Cat Senayan tidak bisa kami urutkan karena musik kami merupakan improvisasi,” jelas Elios.
Elios menambahkan, musik adalah suatu ekspresi dari sang musisi. Ketika musisi itu merasa senang, maka itu adalah ukuran keberhasilan musiknya. Musik harus ke luar dari hati. Karena prinsipnya ini, Elios tidak menampik jika musik disebut beraliran ekspresionis. “Mungkin benar, kami ekspresionis. Kami sama seperti seniman lain, seperti pelukis misalnya yang menuangkan perasaan mereka dalam kanvas. Mereka ingin berekspresi, kami pun juga ingin berekspresi,” tuturnya.
Dalam dialog pasti tercetus emosi. Entah itu marah, takut, resah atau yang lain. Ketika penonton ikut merasakan emosi yang musisi rasakan, itu pertanda positif.
“Musik bagi kami bukan suatu yang dipelajari, tapi suatu yang dirasakan. Entah itu perasaan takut, resah, takut. Dan ketika penonton ikut merasakan itu, itu suatu yang positif,” jelas Boulou. Penonton bagi kedua Ferre memiliki posisi penting dalam pertunjukkan mereka.
Selain musik hasil olah perasaan, improvisasi dan dari pengalaman, dua bersaudara ini memasukkan lagu La Vie en Rose dari penyanyi Edith Piaf, La Javanaise-nya Serge Gamsbourg dan Dis, Quand Reviandras Tu? penyanyi Perancis klasik Barbara.
Gipsi Perancis
Ketika ditanya mengapa musik gipsi, keduanya mengatakan bahwa gipsi adalah musik yang penting di Perancis. Selain itu, sejarah keluarga mereka yang ikut membentuk musik gipsi di Perancis mendorong mereka untuk tetap bermain musik tersebut.
“Bisa dibilang gipsi adalah musik asli Perancis. Lebih khusus lagi, kami bermain gipsi jazz yang tercipta dari dua keluarga, Reinhardt dan Ferre,” tukas Boulou.
Elios menimpali pernyataan saudaranya. Dia mengatakan, tak hanya Perancis, di banyak negara Eropa lainnya, musik gipsi memberi pengaruh cukup penting dalam perkembangan musik mereka.
Dalam sejarah musik gipsi Perancis, Django Reinhardt adalah gitaris gipsi kenamaan di negara tersebut. Bersama dengan Matelo Ferre, Reinhardt melestarikan dan memperbaharui gipsi jazz ala francaise sejak 40 tahun silam. Matelo Ferre sendiri adalah ayah dari Ferre bersaudara ini. Matelo pada masa mudanya kerap mengiringi Edit Piaf sebagai gitaris. Dan seperti diketahui, Edit Piaf dikenal sebagai penyanyi Perancis terkenal yang kisah hidupnya dituangkan dalam film La Vie en Rose. Dengan demikian, darah bermain gitar gipsi sudah mengalir di dua anak Ferre ini.
Baik Boulou maupun Elios optimitis, musik gipsi jazz akan tetap eksis di tengah perkembangan musik kontemporer saat ini. Mereka menjamin, musik ini akan tetap hidup selamanya karena keindahan yang ditawarkan dari petikannya.
Frere Ferre pada tahun 2006 meraih penghargaan Django d’Or untuk album mereka Parisian Passion. Selain berduet, kadang mereka memilih jalan sendiri-sendiri. Ketika yang satu bersolo karir, memainkan nada-nada khas Amerika, yang satunya lagi bertualang entah ke mana untuk sekedar mencari inspirasi dan pengalaman. Tapi ketika keduanya bersatu, harmonisasi musik tetap dihasilkan sempurna seperti konser di GKJ malam itu.
Rabu, 04 Juni 2008
Kamis, 15 Mei 2008
Magenta Moviechestra, Perjalanan Musik Soundtrack dalam Industri Film Indonesia
Ovi Oktaviani
Tak pelak lagi, tujuan utama Andi Riyanto menggelar Magenta Moviechestra di Jakarta, Rabu (14/5) adalah untuk memperlihatkan betapa pentingnya musik dalam sebuah film. Andi seperti ingin memperlihatkan betapa tanpa musik, film terasa hambar. Musik memperkuat narasi sebuah film.
Hal itu pula yang ditulis Andi dalam catatan konsernya. Pria yang menggarap scoring untuk film Arisan itu menulis, musik dan film ibarat pasangan yang harmonis. Tak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. “Itu pasti. Bayangkan jika Anda menonton film tanpa sedikit pun alunan musik. Betapa hambarnya film itu,” tulisnya.
Andi menambahkan, antara musik dan film, keduanya tidak ada saling intimidasi. Artinya, jelas Andi, baik film maupun musik berlenggang seirama.
Maka pada malam konser itu, terciptalah sebuah konser semi nostalgik. Konser tidak hanya menggaungkan soundtrack film-film abad 21, tapi juga menyusuri perjalanannya sejak 30 tahun lalu. Konser yang menggambarkan betapa musik dan film memiliki hubungan yang panjang dan akrab.
“Keintiman antara musik dan film memang telah terjalin di awal munculnya seni film pada permulaan abad ke-20. Saat itu peran musik seolah menyuarakan adegan demi adegan film yang tak bersuara di layar lebar. Indonesia sendiri sejak dasawarsa 50-an telah menampilkan ilustrasi musik yang indah dan padu,” ungkap Andi.
Andi mencontohkan film Tiga Dara yang dibesut mendiang Usmar Ismail. Film ini mendapat torehan musik nan indah buah karya Sjaiful Bachri. Atau film fenomenal Teguh Karya Badai Pasti Berlalu merasakan ‘kebesarannya’ melalui musik soundtrack garapan Eros Djarot. Soundtrack film ini bahkan diklaim oleh beberapa orang sebagai soundtrack yang menandai era baru musik Indonesia. Melalui karyanya ini, Eros beberapa kali mendapat penghargaan. Salah satunya Piala Citra kategori Tata Musik Terbaik (1978).
Soundtrack musik terus berlanjut mendapatkan tempatnya di industri film Tanah Air bersamaan dengan perkembangan industri itu sendiri. Film anak muda era 80-an Catatan Si Boy meledak bersama iringan musik karya Harry Sabar. Soundtrack film ini dinyanyikan dengan konotasi rock oleh Ikang Fawzi. Harry Sabar kembali menuai pujian melalui soundtrack ciptaanya berjudul Emosi Jiwa. Karya ini dilekatkan pada Catatan Si Boy 2 yang rilis 1988.
“Dalam konser Moviechestra ini saya dan Magenta Orchestra berupaya membuat semacam perjalanan musik score maupun soundtrack dari beberapa film yang menjadi representasi zamannya, termasuk soundtrack fenomenal karya Eros Djarot Badai Pasti Berlalu (1977). Konser saya juga memasukkan film-film yang pernah menjadi magnet pada dasawarsa 80-an, Catatan Si Boy (1987), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985) hingga era sekarang ini: Arisan! (2003) atau Mengejar Matahari (2004),” tulisnya.
Konser Nostalgia
Badai Pasti Berlalu (BPB) menjadi pembuka konser malam itu. Andi yang didapuk untuk menggarap soundtrack versi terbaru film ini seperti tak bisa melepaskan diri dari nuansa klasikal sebagai ciri utama BPB. Untuk memperkaya film, Andi bahkan menambah sentuhan orkestrasi dan menyusunnya dalam bentuk medley. Selain BPB, Andi menambah musik Matahari dan Merpati Putih.
Saat musik dimainkan, layar yang digelar di atas panggung memperlihatkan potongan-potongan film BPB dan BPB versi 2007 karya Teddy Soeriaatmadja. Yang menarik, tiap kali potongan film lama diperlihatkan, penonton mengeluarkan suara surprise dan kekaguman. Beberapa berseru riuh.
Tak pelak lagi, konser ini seperti sebuah konser nostalgia bagi penonton dengan rentang usia 30an itu.
Sambutan penonton juga tampak antusias ketika potongan film Tante Sun diperlihatkan. Film yang dilengkapi soundtrack berlirik satir itu menampilkan adegan-adegan lucu dan karikatural. Dari awal hingga akhir film (dan konser tentunya), penonton terus menerus tergelak melihat aksi tante Sun. Tante Sun diperankan dengan baik oleh Tuti Mutia.
Nuansa nostalgia juga dirasakan kuat saat muncul potongan film Benyamin S diiringi lagu Kompor Meleduk dan Hujan Gerimis. Begitu pula Gita Cinta dari SMA dengan soundtrack Galih dan Ratna. Musik dimainkan dengan apik oleh Andi Rianto bersama 3 Diva.
Untuk film-film terbaru, Andi memilih soundtrack Cinta Terlarang untuk film Arisan, Mendadak Dangdut dengan soundtrack Jablai dan Mengejar Matahari untuk judul film yang sama.
Masalahnya, penggabungan antara layar film dan konser musik tampak menjadi “problem”. Perhatian penonton terbagi dua, antara film dan konser. Mereka seperti lebih tersedot oleh film dibanding konser itu sendiri. Ini terlihat dari reaksi penonton yang kerap muncul karena film dan bukan karena konser. Tapi yang pasti, konser Magenta patut diacungi jempol. Bagaimanapun, konser ini membawa nuansa lain di tengah derasnya arus teknologi dan modernitas dewasa ini.
Ovi Oktaviani
Tak pelak lagi, tujuan utama Andi Riyanto menggelar Magenta Moviechestra di Jakarta, Rabu (14/5) adalah untuk memperlihatkan betapa pentingnya musik dalam sebuah film. Andi seperti ingin memperlihatkan betapa tanpa musik, film terasa hambar. Musik memperkuat narasi sebuah film.
Hal itu pula yang ditulis Andi dalam catatan konsernya. Pria yang menggarap scoring untuk film Arisan itu menulis, musik dan film ibarat pasangan yang harmonis. Tak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. “Itu pasti. Bayangkan jika Anda menonton film tanpa sedikit pun alunan musik. Betapa hambarnya film itu,” tulisnya.
Andi menambahkan, antara musik dan film, keduanya tidak ada saling intimidasi. Artinya, jelas Andi, baik film maupun musik berlenggang seirama.
Maka pada malam konser itu, terciptalah sebuah konser semi nostalgik. Konser tidak hanya menggaungkan soundtrack film-film abad 21, tapi juga menyusuri perjalanannya sejak 30 tahun lalu. Konser yang menggambarkan betapa musik dan film memiliki hubungan yang panjang dan akrab.
“Keintiman antara musik dan film memang telah terjalin di awal munculnya seni film pada permulaan abad ke-20. Saat itu peran musik seolah menyuarakan adegan demi adegan film yang tak bersuara di layar lebar. Indonesia sendiri sejak dasawarsa 50-an telah menampilkan ilustrasi musik yang indah dan padu,” ungkap Andi.
Andi mencontohkan film Tiga Dara yang dibesut mendiang Usmar Ismail. Film ini mendapat torehan musik nan indah buah karya Sjaiful Bachri. Atau film fenomenal Teguh Karya Badai Pasti Berlalu merasakan ‘kebesarannya’ melalui musik soundtrack garapan Eros Djarot. Soundtrack film ini bahkan diklaim oleh beberapa orang sebagai soundtrack yang menandai era baru musik Indonesia. Melalui karyanya ini, Eros beberapa kali mendapat penghargaan. Salah satunya Piala Citra kategori Tata Musik Terbaik (1978).
Soundtrack musik terus berlanjut mendapatkan tempatnya di industri film Tanah Air bersamaan dengan perkembangan industri itu sendiri. Film anak muda era 80-an Catatan Si Boy meledak bersama iringan musik karya Harry Sabar. Soundtrack film ini dinyanyikan dengan konotasi rock oleh Ikang Fawzi. Harry Sabar kembali menuai pujian melalui soundtrack ciptaanya berjudul Emosi Jiwa. Karya ini dilekatkan pada Catatan Si Boy 2 yang rilis 1988.
“Dalam konser Moviechestra ini saya dan Magenta Orchestra berupaya membuat semacam perjalanan musik score maupun soundtrack dari beberapa film yang menjadi representasi zamannya, termasuk soundtrack fenomenal karya Eros Djarot Badai Pasti Berlalu (1977). Konser saya juga memasukkan film-film yang pernah menjadi magnet pada dasawarsa 80-an, Catatan Si Boy (1987), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985) hingga era sekarang ini: Arisan! (2003) atau Mengejar Matahari (2004),” tulisnya.
Konser Nostalgia
Badai Pasti Berlalu (BPB) menjadi pembuka konser malam itu. Andi yang didapuk untuk menggarap soundtrack versi terbaru film ini seperti tak bisa melepaskan diri dari nuansa klasikal sebagai ciri utama BPB. Untuk memperkaya film, Andi bahkan menambah sentuhan orkestrasi dan menyusunnya dalam bentuk medley. Selain BPB, Andi menambah musik Matahari dan Merpati Putih.
Saat musik dimainkan, layar yang digelar di atas panggung memperlihatkan potongan-potongan film BPB dan BPB versi 2007 karya Teddy Soeriaatmadja. Yang menarik, tiap kali potongan film lama diperlihatkan, penonton mengeluarkan suara surprise dan kekaguman. Beberapa berseru riuh.
Tak pelak lagi, konser ini seperti sebuah konser nostalgia bagi penonton dengan rentang usia 30an itu.
Sambutan penonton juga tampak antusias ketika potongan film Tante Sun diperlihatkan. Film yang dilengkapi soundtrack berlirik satir itu menampilkan adegan-adegan lucu dan karikatural. Dari awal hingga akhir film (dan konser tentunya), penonton terus menerus tergelak melihat aksi tante Sun. Tante Sun diperankan dengan baik oleh Tuti Mutia.
Nuansa nostalgia juga dirasakan kuat saat muncul potongan film Benyamin S diiringi lagu Kompor Meleduk dan Hujan Gerimis. Begitu pula Gita Cinta dari SMA dengan soundtrack Galih dan Ratna. Musik dimainkan dengan apik oleh Andi Rianto bersama 3 Diva.
Untuk film-film terbaru, Andi memilih soundtrack Cinta Terlarang untuk film Arisan, Mendadak Dangdut dengan soundtrack Jablai dan Mengejar Matahari untuk judul film yang sama.
Masalahnya, penggabungan antara layar film dan konser musik tampak menjadi “problem”. Perhatian penonton terbagi dua, antara film dan konser. Mereka seperti lebih tersedot oleh film dibanding konser itu sendiri. Ini terlihat dari reaksi penonton yang kerap muncul karena film dan bukan karena konser. Tapi yang pasti, konser Magenta patut diacungi jempol. Bagaimanapun, konser ini membawa nuansa lain di tengah derasnya arus teknologi dan modernitas dewasa ini.
Jumat, 18 April 2008
Sineas ttg Fitna
Garin Nugroho: Masyarakat Harus Dewasa Sikapi Fitna
Sineas Garin Nugroho mengatakan, masyarakat harus dewasa dan kritis menyikapi film Fitna. Dia menilai, film ini adalah teknik propaganda di era milenium ketiga."Sekarang ini banyak sekali film-film semacam Fitna. Maka masyarakat harus berhati-hati, lebih kritis dan dewasa menyikapi film itu," jelas Garin di Jakarta, Selasa. Untuk pertama kalinya film Fitna beredar di laman (situs) internet Youtube pada 27 Maret lalu. Film ini langsung memicu reaksi beragam di masyarakat Muslim di Indonesia dan masyarakat dunia. Sutradara film Opera Jawa dan Daun di Atas Bantal ini menilai wajar bila umat Islam bereaksi keras terhadap film Fitna. Namun ia tidak menganjurkan sikap reaktif dan anarkis dalam menyikapi film buatan anggota parlemen Belanda, Geert Wilders yang isinya menistakan Kitab Suci Al-Quran itu. "Sekarang saatnya kita menyadari bahwa itu (Fitna) merupakan strategi komunikasi dari pihak-pihak tertentu untuk melancarkan propaganda," imbuh dia. Menurut Garin, umat Islam sebaiknya mencontoh Nabi Muhammad yang sangat pandai bercerita dan selalu mengajarkan hal-hal yang baik saja. Karena itu, lanjutnya, umat Islam sebaiknya menyampaikan hal-hal yang baik dan nilai-nilai yang baik saja. "Tidak usah bersikap berlebihan. Itu kan bukan film, tapi alat propaganda," kata dia seperti dikutip Antara. Sementara itu gelombang aksi demonstrasi di depan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta memprotes film Fitna terus mengalir. Setelah Front Pembela Islam (FPI) mendemo pada Senin (31/3), giliran anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada Selasa (1/4) melakukan demonstrasi di depan kedutaan yang berada di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan itu. Puluhan anggota HTI berunjuk rasa sambil berorasi dan membawa spanduk yang mengecam Geert Wilders. Aksi yang dijaga oleh puluhan anggota kepolisian itu sempat memacetkan jalur lambat Jalan Rasuna Said karena separuh jalur tersebut digunakan oleh para pengunjuk rasa. (ovi)
Sineas Garin Nugroho mengatakan, masyarakat harus dewasa dan kritis menyikapi film Fitna. Dia menilai, film ini adalah teknik propaganda di era milenium ketiga."Sekarang ini banyak sekali film-film semacam Fitna. Maka masyarakat harus berhati-hati, lebih kritis dan dewasa menyikapi film itu," jelas Garin di Jakarta, Selasa. Untuk pertama kalinya film Fitna beredar di laman (situs) internet Youtube pada 27 Maret lalu. Film ini langsung memicu reaksi beragam di masyarakat Muslim di Indonesia dan masyarakat dunia. Sutradara film Opera Jawa dan Daun di Atas Bantal ini menilai wajar bila umat Islam bereaksi keras terhadap film Fitna. Namun ia tidak menganjurkan sikap reaktif dan anarkis dalam menyikapi film buatan anggota parlemen Belanda, Geert Wilders yang isinya menistakan Kitab Suci Al-Quran itu. "Sekarang saatnya kita menyadari bahwa itu (Fitna) merupakan strategi komunikasi dari pihak-pihak tertentu untuk melancarkan propaganda," imbuh dia. Menurut Garin, umat Islam sebaiknya mencontoh Nabi Muhammad yang sangat pandai bercerita dan selalu mengajarkan hal-hal yang baik saja. Karena itu, lanjutnya, umat Islam sebaiknya menyampaikan hal-hal yang baik dan nilai-nilai yang baik saja. "Tidak usah bersikap berlebihan. Itu kan bukan film, tapi alat propaganda," kata dia seperti dikutip Antara. Sementara itu gelombang aksi demonstrasi di depan Kedutaan Besar Belanda di Jakarta memprotes film Fitna terus mengalir. Setelah Front Pembela Islam (FPI) mendemo pada Senin (31/3), giliran anggota Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) pada Selasa (1/4) melakukan demonstrasi di depan kedutaan yang berada di Jalan HR Rasuna Said, Kuningan itu. Puluhan anggota HTI berunjuk rasa sambil berorasi dan membawa spanduk yang mengecam Geert Wilders. Aksi yang dijaga oleh puluhan anggota kepolisian itu sempat memacetkan jalur lambat Jalan Rasuna Said karena separuh jalur tersebut digunakan oleh para pengunjuk rasa. (ovi)
UPH Evening Concert
UPH Evening Concert,
Karya Indah Guru dan Murid
Musik adalah anugerah Tuhan. Musik membantu kita melantunkan pujian, mendendangkan perasaan senang, gembira bahkan juga sedih. Musik, sebuah medium paling cocok untuk mengekspresikan dan mewujudkan apa yang tidak bisa dinyatakan oleh media lain.
Bahkan, melalui musik, kesatuan pun bisa terjadi. Hal itu terjadi ketika guru dan murid sama-sama membuat harmonisasi di acara Music Fest 2008. Demikanlah Universitas Pelita Harapan menjadikan suatu malam yang khusus belum lama ini dalam bentuk UPH Evening Concert. Sebuah konser musik antara guru dan murid.
Fabiola Chaniago (piano), Andrea Yanuar (klarinet) dan Kim Dong Whan (selo) mengawali konser dengan membawakan komposisi Pria ch’ io l’impegno – Allegretto buah karya Beethoven, komposisi musik yang dipublikasi awal tahun 1798. Komposisi ini dimainkan pada Clarinet Trio di Bb-major dan memiliki kategori musik yang penuh semangat.
Piano Duet oleh Mamoru Yabuki dan Mina Yamauchi membawakan Hungarian Dance no.6 in’ pada Db-major karangan J. Brahms yang hidup antara 1833 – 1897. Duet antara dua guru yang sama-sama melayani di Fakultas Piano UPH Conservatory of Music itu kemudian dilanjukan dengan Le pas Espagnol karya Gabriel Faure.
Konser kemudian diisi oleh duet piano Nia Junaisih (piano) dan Ketut Kadensi (biola). Keduanya secara kompak membawakan Violin Sonata pada A major karya Cesar Franck. Komposisi musik ini dibuat pada 1886 dan didedikasikan untuk violis (pemain biola) Eugene Ysaye. Gabungan antara biola dan piano ini menghasilkan karya melodius layaknya suara manusia. Sementara suara piano dalam karya ini berfungsi mewakili dialektika yang terjadi di antara musik-musik ini.
Dr Johannes S. Nugroho melanjutkan pagelaran ini dengan membawakan Etudes d’execution transcendante no.4, Mazeppa dari F. Liszt. Pria yang menerima Doktor Musik di Universitas Indiana, Bloomington ini beberapa kali meraih penghargaan kompetisi piano tingkat internasional.
Allegro, ma non tanto dari Piano Quintett A-major karya Antonin Dvorak dibawakan masih oleh Johannes. Tapi kali ini denting paino Johannes ditimpali dengan gesekan biola Jane Ade Sutardjo, Amelia Tionada dam J. Suprapto dan selo Kim Dong Whan.
Jane Ade Sutardjo adalah pelajar di Dr. Sharon Eng dan anggota dari Jakarta Chamber Orchestra dan Nusantara Symphony Orchestra. Amelia Tionada selain masih terdaftar sebagai mahasiswa di UPH Conservatory of Music, juga menjadi anggota Dr. Sharon Eng dan Jakarta Chamber Orchestra bimbingan Avip Priatna dan Nusantara Symphony Orchestra.
Sementara Kim Dong Whan saat ini terdaftar sebagai anggota UPH Conservatory di Faktulas Cello dan Chamber Music. Dia juga anggota Lippo Karawaci Community Choir and Orchestra (LKCCO) dan Jakarta Chamber Orchestra (JCO)
Konser dilanjutkan dengan piano Benny M Tanto. Pria yang menjabat sebagai Direktur Bidang Gitar di UPH ini melantunkan karya Isaac Albeniz berjudul Sevilla.
Awalnya, karya ini ditulis Albeniz untuk dimainkan dengan menggunakan piano, khususnya di bagian kedua yang berjudul Suite Espanola. Impresi dari bagian-bagian komposisi khas Spanyol ini mengilustrasikan kejeniusan Albeniz dalam memotret bagian karakteristik ritmik sekaligus sekaligus memperlihatkan kejernihan telinganya dalam mendengar perubahan-perubahan kunci musik.
S Rachmaninoff yang menelurkan karya Etudes Tableaux Op.39 no.5 pada Eb-minor dibuat antara tahun 1916 – 1917. Rachmaninoff dikenal sebagai composer yang masih terpengaruh oleh tradisi Romantis abad 19. Dalam dua karya etude-nya ini, Rachmaninoff mengeksplorasi instrument dengan cara yang personal sekaligus cemerlang. Karya Rachmaninoff dibawakan oleh Mario Santoso, Kepala Departemen Musik UPH Conservatory of Music.
Marta J. Podolska yang menjabat sebagai guru piano UPH memainkan Tableaux Op.39 no.9 pada D-major Rachmaninoff, yang kemudian dilanjutkan dengan kolaborasi tenor Ridolf Hehanusa dan piano Mario Santoso. Mereka membawakan La Donna é Mobile karya G. Verdi (1813-1901) dari album Rigoletto.
Karya Mozart juga muncul pada konser ini melalui Konigen in der Nacht (Queen of the Night). Karya ini diambil dari Die Zauberflote, sebuah karya yang menggambarkan ketegangan perselisihan dan kebencian anak manusia. Musik ini mengalir perlahan tapi kemudian memuncak yang menyimbolkan intensitas perasaan dari drama yang dimainkan.
Delima Simamora membawakan karya Mozart ini dengan suara sopranonya dibarengi dengan piano Alfred Rony Situmorang.
Erlkonig, Op.1 garapan Franz Schubert (1797 – 1828) adalah karya yang diambil dari puisi Der Erlkonig oleh Johann Wolfgang von Goethe. Schubert menyusun puisi ini untuk suara solo dan piano pada 1815. ada empat karakter di sini, yakni: narator, ayah, anak dan Erl-King. Permainan ini diawali dengan bunyi piano yang dimainkan dengan oktaf cepat untuk menciptakan suasana horror, yang ditimpali dengan notasi berulang untuk menstimulasi suasana yang mencekam. Karya ini berakhir dengan tempo dramatic yang sempurna.
Karya Schubert ini dinyanyikan oleh Antonius Stanley Limandau dengan suara bariton diiringi dengan piano Alfred Rony Situmorang.
Dari Piano Quintett pada Eb – major , Op.44 karya R. Schumann, Allegro Brillante tercipta untuk istri Schumann, Clara. Karya ini juga dianggap sebagai masterpiece dari genre-nya. Karya ini dimainkan dengan awal yang kuat, yang kemudian melompat pada sepasang notasi yang lebih kuat lagi. Tekstur yang kaya ini sangat kental dengan kehangatan khas tradisi Romantik.
Alfred Rony Situmorang (piano), Diki Pradana (biola) dan Ketut Kadensi (biola), Michelle Siswanto (biola) dan Kim Dong Whan (selo) membawakan karya Schumann dengan apik sekaligus menutup konser Evening Concert UPH Conservatory of Music.
Karya Indah Guru dan Murid
Musik adalah anugerah Tuhan. Musik membantu kita melantunkan pujian, mendendangkan perasaan senang, gembira bahkan juga sedih. Musik, sebuah medium paling cocok untuk mengekspresikan dan mewujudkan apa yang tidak bisa dinyatakan oleh media lain.
Bahkan, melalui musik, kesatuan pun bisa terjadi. Hal itu terjadi ketika guru dan murid sama-sama membuat harmonisasi di acara Music Fest 2008. Demikanlah Universitas Pelita Harapan menjadikan suatu malam yang khusus belum lama ini dalam bentuk UPH Evening Concert. Sebuah konser musik antara guru dan murid.
Fabiola Chaniago (piano), Andrea Yanuar (klarinet) dan Kim Dong Whan (selo) mengawali konser dengan membawakan komposisi Pria ch’ io l’impegno – Allegretto buah karya Beethoven, komposisi musik yang dipublikasi awal tahun 1798. Komposisi ini dimainkan pada Clarinet Trio di Bb-major dan memiliki kategori musik yang penuh semangat.
Piano Duet oleh Mamoru Yabuki dan Mina Yamauchi membawakan Hungarian Dance no.6 in’ pada Db-major karangan J. Brahms yang hidup antara 1833 – 1897. Duet antara dua guru yang sama-sama melayani di Fakultas Piano UPH Conservatory of Music itu kemudian dilanjukan dengan Le pas Espagnol karya Gabriel Faure.
Konser kemudian diisi oleh duet piano Nia Junaisih (piano) dan Ketut Kadensi (biola). Keduanya secara kompak membawakan Violin Sonata pada A major karya Cesar Franck. Komposisi musik ini dibuat pada 1886 dan didedikasikan untuk violis (pemain biola) Eugene Ysaye. Gabungan antara biola dan piano ini menghasilkan karya melodius layaknya suara manusia. Sementara suara piano dalam karya ini berfungsi mewakili dialektika yang terjadi di antara musik-musik ini.
Dr Johannes S. Nugroho melanjutkan pagelaran ini dengan membawakan Etudes d’execution transcendante no.4, Mazeppa dari F. Liszt. Pria yang menerima Doktor Musik di Universitas Indiana, Bloomington ini beberapa kali meraih penghargaan kompetisi piano tingkat internasional.
Allegro, ma non tanto dari Piano Quintett A-major karya Antonin Dvorak dibawakan masih oleh Johannes. Tapi kali ini denting paino Johannes ditimpali dengan gesekan biola Jane Ade Sutardjo, Amelia Tionada dam J. Suprapto dan selo Kim Dong Whan.
Jane Ade Sutardjo adalah pelajar di Dr. Sharon Eng dan anggota dari Jakarta Chamber Orchestra dan Nusantara Symphony Orchestra. Amelia Tionada selain masih terdaftar sebagai mahasiswa di UPH Conservatory of Music, juga menjadi anggota Dr. Sharon Eng dan Jakarta Chamber Orchestra bimbingan Avip Priatna dan Nusantara Symphony Orchestra.
Sementara Kim Dong Whan saat ini terdaftar sebagai anggota UPH Conservatory di Faktulas Cello dan Chamber Music. Dia juga anggota Lippo Karawaci Community Choir and Orchestra (LKCCO) dan Jakarta Chamber Orchestra (JCO)
Konser dilanjutkan dengan piano Benny M Tanto. Pria yang menjabat sebagai Direktur Bidang Gitar di UPH ini melantunkan karya Isaac Albeniz berjudul Sevilla.
Awalnya, karya ini ditulis Albeniz untuk dimainkan dengan menggunakan piano, khususnya di bagian kedua yang berjudul Suite Espanola. Impresi dari bagian-bagian komposisi khas Spanyol ini mengilustrasikan kejeniusan Albeniz dalam memotret bagian karakteristik ritmik sekaligus sekaligus memperlihatkan kejernihan telinganya dalam mendengar perubahan-perubahan kunci musik.
S Rachmaninoff yang menelurkan karya Etudes Tableaux Op.39 no.5 pada Eb-minor dibuat antara tahun 1916 – 1917. Rachmaninoff dikenal sebagai composer yang masih terpengaruh oleh tradisi Romantis abad 19. Dalam dua karya etude-nya ini, Rachmaninoff mengeksplorasi instrument dengan cara yang personal sekaligus cemerlang. Karya Rachmaninoff dibawakan oleh Mario Santoso, Kepala Departemen Musik UPH Conservatory of Music.
Marta J. Podolska yang menjabat sebagai guru piano UPH memainkan Tableaux Op.39 no.9 pada D-major Rachmaninoff, yang kemudian dilanjutkan dengan kolaborasi tenor Ridolf Hehanusa dan piano Mario Santoso. Mereka membawakan La Donna é Mobile karya G. Verdi (1813-1901) dari album Rigoletto.
Karya Mozart juga muncul pada konser ini melalui Konigen in der Nacht (Queen of the Night). Karya ini diambil dari Die Zauberflote, sebuah karya yang menggambarkan ketegangan perselisihan dan kebencian anak manusia. Musik ini mengalir perlahan tapi kemudian memuncak yang menyimbolkan intensitas perasaan dari drama yang dimainkan.
Delima Simamora membawakan karya Mozart ini dengan suara sopranonya dibarengi dengan piano Alfred Rony Situmorang.
Erlkonig, Op.1 garapan Franz Schubert (1797 – 1828) adalah karya yang diambil dari puisi Der Erlkonig oleh Johann Wolfgang von Goethe. Schubert menyusun puisi ini untuk suara solo dan piano pada 1815. ada empat karakter di sini, yakni: narator, ayah, anak dan Erl-King. Permainan ini diawali dengan bunyi piano yang dimainkan dengan oktaf cepat untuk menciptakan suasana horror, yang ditimpali dengan notasi berulang untuk menstimulasi suasana yang mencekam. Karya ini berakhir dengan tempo dramatic yang sempurna.
Karya Schubert ini dinyanyikan oleh Antonius Stanley Limandau dengan suara bariton diiringi dengan piano Alfred Rony Situmorang.
Dari Piano Quintett pada Eb – major , Op.44 karya R. Schumann, Allegro Brillante tercipta untuk istri Schumann, Clara. Karya ini juga dianggap sebagai masterpiece dari genre-nya. Karya ini dimainkan dengan awal yang kuat, yang kemudian melompat pada sepasang notasi yang lebih kuat lagi. Tekstur yang kaya ini sangat kental dengan kehangatan khas tradisi Romantik.
Alfred Rony Situmorang (piano), Diki Pradana (biola) dan Ketut Kadensi (biola), Michelle Siswanto (biola) dan Kim Dong Whan (selo) membawakan karya Schumann dengan apik sekaligus menutup konser Evening Concert UPH Conservatory of Music.
opera and musical night di Pusat Kebudayaan Itali
Opera & Musical Night, Dadakan Tapi Indah
Ovi Oktaviani
Kendati merupakan proyek dadakan, Opera and Musical Night di Kedutaan Italia yang dipandu oleh Avip Prijatna belum lama ini terbilang sukses. Sukses karena konser yang menampilkan tenor Farman Purnama, sopran Sylvia Wiryadi dan Fitri Muliati, alto Yosefin Emilia dan bass Rainer Revireino itu tampak kompak dan penuh semangat.
Acara dibuka dengan suara sopran dari Yosefin. Perempuan yang akrab dipanggil Lia itu menyanyikan komposisi lagu dari WA Mozart berjudul Voi che sapete, yang kemudian dilanjutkan dengan Ah, Perdono. Dalam lagu ini, Lia berduet dengan Sylvia.
In Diesen Heigen Hallen, masih garapan Mozart, ditampilkan dengan lantang oleh suara bass Rainer Revireino. Pada menit ke-15, Sylvia melanjutkan opera ini dengan lagu berjudul Ach Ich Fuhls.
Lagu ke-5 diisi dengan Quando men vo dari Giacomo Puccini, yang kemudian dilanjutkan oleh permainan flute dari Gerhard Mair. Gerhard memainkan komposisi Francois Borne berjudul Carmen Fantasy. Lirik-lirik opera dari Giuseppe Verdi dinyanyikan dengan gemilang oleh Sylvia dengan judul Caro Nome. Pada menit terakhir di program pertama, kuartet yang terdiri dari Sylvia, Yosefin, Farman dan Rainer menyanyikan Quartet Rigoletto dari Giuseppe. Lagu ini dibawakan secara bersahut-sahutan oleh keempat penyanyi.
Berbahasa Inggris
Jika pada sesi pertama, opera diisi dengan lagu-lagu berbahasa Italia, pada sesi kedua, lagu dinyanyikan dalam bahasa Inggris. Semuanya berkisah tentang cinta dan keindahan.
Only Love yang dibawakan dengan merdu oleh Fitri Muliati berkisah tentang seorang wanita yang berusaha meyakinkan suaminya, bahwa dia masih mencintai suaminya.
About His Love yang dibawakan secara duet oleh Fitri dan Sylvia masih bercerita tentang cinta seorang wanita terhadap pria pujaannya. Lagu ini diaransemen oleh Will Rapp dan Jay Bocook dengan susunan melodi yang indah dan mendayu.
Pada lagu ketiga di sesi yang kedua ini, Farman menyanyikan Why God Why? Claude-Michel Schonberg, pencipta lagu, terinspirasi oleh kisah cinta seorang prajurit AS yang ikut berperang di Vietnam. Di negara itu, sang prajurit jatuh cinta dengan seorang perempuan lokal dan tak sanggup berpisah dari kekasihnya itu.
Petikan “Why does Saigon never sleep at night? Why does this girl smell of orange trees? How can I feel good when nothing's right? Why is she cool when there is no breeze? Vietnam” dinyanyikan dengan tenor kuat dari Farman yang pernah belajar langsung pada almarhum Pranadjaja.
Farman melanjutkan konser mini ini bersama dengan Sylvia dengan lagu Last Night of The World. Tema lagu ini tidak jauh berbeda dengan lagu sebelumnya, yang berkisah tentang kisah cinta yang ditinggal di negara lain.
Sementara komposisi dari George Gershwin seperti Somebody Lovers Me, By Strauss dan Bess, You is My Woman dibawakan secara berturut-turut oleh Sylvia. Perempuan yang lahir di tahun 1982 itu pada umur 17 tahun mengecap pendidikan di Central Conservatory of Music di Beijing, Tiongkok, dan Tubingen Music Academy Jerman.
Tiupan flute Gerhard menyusul kemudian di menit-menit menjelang penutupan konser ini. Pria yang lahir di Wels, Austria itu memainkan musik berjudul Glitter and Be Gay dari Leonard Bernstein, komposer yang lahir pada tahun 1918.
Sylvia, Fitri, Yosefin, Rainer dan Farman kemudian muncul berbarengan membawakan lagu Leonard berjudul Make Our Garden Grow. Di lagu, karakter suara dari masing-masing penyanyi tetap terjaga. Yosefin, misalnya, dengan suara altonya, tetap mampu mengimbangi kemampuan sopran dari Sylvia dan Fitri. Sementara bass Rainer mampu melengkapi tenor Farman.
Dadakan
Avip, konduktor sekaligus pianis yang mengiringi konser ini, mengaku acara ini adalah acara dadakan dan tidak dibarengi dengan persiapan yang matang.
Avip beralasan, dirinya tengah sibuk mempersiapkan acara-acara lain bersama dengan sekolahnya.
“Jadi, dua minggu lalu Gerhard (flute) sedang di Jakarta. Dia punya ide untuk membuat acara dengan konsep opera. Kebetulan Sylvia (salah satu penyanyi) juga sedang di Jakarta. Nah, Gerhard ngajak saya, “Gimana kalau kita bikin opera?”,” kata dia saat ditemui Investor Daily di sela acara.
Avip menambahkan, dirinya langsung oke begitu mendapat ajakan dari Gerhard, kendati disibukkan oleh berbagai acara lain.
Avip tengah bersiap membuat pagelaran yang melibatkan Jakarta Chamber Orchestra (JCO) dan Paduan Suara Mahasiswa Parahyangan Bandung (PSM Unpar), institusi-institusi musik bentukan Avip.
“Kita tengah sibuk membuat acara yang nantinya melibatkan JCO dan Unpar akhir April dan awal Mei mendatang,” tutur dia. selain itu, Avip bersama rekan-rekannya juga tengah mempersiapkan konser di Slovakia dalam rangka kompetisi musik klasik di negara tersebut.
Tahun ini, pria yang kerap membawa nama Indonesia ke dunia internasional itu, juga tengah sibuk memperkuat sekolah musik anak-anak The Resonanz Children Choir.
“Jadi, doakan saja semuanya lancar,” kata dia menutup pembicaraan.
Ovi Oktaviani
Kendati merupakan proyek dadakan, Opera and Musical Night di Kedutaan Italia yang dipandu oleh Avip Prijatna belum lama ini terbilang sukses. Sukses karena konser yang menampilkan tenor Farman Purnama, sopran Sylvia Wiryadi dan Fitri Muliati, alto Yosefin Emilia dan bass Rainer Revireino itu tampak kompak dan penuh semangat.
Acara dibuka dengan suara sopran dari Yosefin. Perempuan yang akrab dipanggil Lia itu menyanyikan komposisi lagu dari WA Mozart berjudul Voi che sapete, yang kemudian dilanjutkan dengan Ah, Perdono. Dalam lagu ini, Lia berduet dengan Sylvia.
In Diesen Heigen Hallen, masih garapan Mozart, ditampilkan dengan lantang oleh suara bass Rainer Revireino. Pada menit ke-15, Sylvia melanjutkan opera ini dengan lagu berjudul Ach Ich Fuhls.
Lagu ke-5 diisi dengan Quando men vo dari Giacomo Puccini, yang kemudian dilanjutkan oleh permainan flute dari Gerhard Mair. Gerhard memainkan komposisi Francois Borne berjudul Carmen Fantasy. Lirik-lirik opera dari Giuseppe Verdi dinyanyikan dengan gemilang oleh Sylvia dengan judul Caro Nome. Pada menit terakhir di program pertama, kuartet yang terdiri dari Sylvia, Yosefin, Farman dan Rainer menyanyikan Quartet Rigoletto dari Giuseppe. Lagu ini dibawakan secara bersahut-sahutan oleh keempat penyanyi.
Berbahasa Inggris
Jika pada sesi pertama, opera diisi dengan lagu-lagu berbahasa Italia, pada sesi kedua, lagu dinyanyikan dalam bahasa Inggris. Semuanya berkisah tentang cinta dan keindahan.
Only Love yang dibawakan dengan merdu oleh Fitri Muliati berkisah tentang seorang wanita yang berusaha meyakinkan suaminya, bahwa dia masih mencintai suaminya.
About His Love yang dibawakan secara duet oleh Fitri dan Sylvia masih bercerita tentang cinta seorang wanita terhadap pria pujaannya. Lagu ini diaransemen oleh Will Rapp dan Jay Bocook dengan susunan melodi yang indah dan mendayu.
Pada lagu ketiga di sesi yang kedua ini, Farman menyanyikan Why God Why? Claude-Michel Schonberg, pencipta lagu, terinspirasi oleh kisah cinta seorang prajurit AS yang ikut berperang di Vietnam. Di negara itu, sang prajurit jatuh cinta dengan seorang perempuan lokal dan tak sanggup berpisah dari kekasihnya itu.
Petikan “Why does Saigon never sleep at night? Why does this girl smell of orange trees? How can I feel good when nothing's right? Why is she cool when there is no breeze? Vietnam” dinyanyikan dengan tenor kuat dari Farman yang pernah belajar langsung pada almarhum Pranadjaja.
Farman melanjutkan konser mini ini bersama dengan Sylvia dengan lagu Last Night of The World. Tema lagu ini tidak jauh berbeda dengan lagu sebelumnya, yang berkisah tentang kisah cinta yang ditinggal di negara lain.
Sementara komposisi dari George Gershwin seperti Somebody Lovers Me, By Strauss dan Bess, You is My Woman dibawakan secara berturut-turut oleh Sylvia. Perempuan yang lahir di tahun 1982 itu pada umur 17 tahun mengecap pendidikan di Central Conservatory of Music di Beijing, Tiongkok, dan Tubingen Music Academy Jerman.
Tiupan flute Gerhard menyusul kemudian di menit-menit menjelang penutupan konser ini. Pria yang lahir di Wels, Austria itu memainkan musik berjudul Glitter and Be Gay dari Leonard Bernstein, komposer yang lahir pada tahun 1918.
Sylvia, Fitri, Yosefin, Rainer dan Farman kemudian muncul berbarengan membawakan lagu Leonard berjudul Make Our Garden Grow. Di lagu, karakter suara dari masing-masing penyanyi tetap terjaga. Yosefin, misalnya, dengan suara altonya, tetap mampu mengimbangi kemampuan sopran dari Sylvia dan Fitri. Sementara bass Rainer mampu melengkapi tenor Farman.
Dadakan
Avip, konduktor sekaligus pianis yang mengiringi konser ini, mengaku acara ini adalah acara dadakan dan tidak dibarengi dengan persiapan yang matang.
Avip beralasan, dirinya tengah sibuk mempersiapkan acara-acara lain bersama dengan sekolahnya.
“Jadi, dua minggu lalu Gerhard (flute) sedang di Jakarta. Dia punya ide untuk membuat acara dengan konsep opera. Kebetulan Sylvia (salah satu penyanyi) juga sedang di Jakarta. Nah, Gerhard ngajak saya, “Gimana kalau kita bikin opera?”,” kata dia saat ditemui Investor Daily di sela acara.
Avip menambahkan, dirinya langsung oke begitu mendapat ajakan dari Gerhard, kendati disibukkan oleh berbagai acara lain.
Avip tengah bersiap membuat pagelaran yang melibatkan Jakarta Chamber Orchestra (JCO) dan Paduan Suara Mahasiswa Parahyangan Bandung (PSM Unpar), institusi-institusi musik bentukan Avip.
“Kita tengah sibuk membuat acara yang nantinya melibatkan JCO dan Unpar akhir April dan awal Mei mendatang,” tutur dia. selain itu, Avip bersama rekan-rekannya juga tengah mempersiapkan konser di Slovakia dalam rangka kompetisi musik klasik di negara tersebut.
Tahun ini, pria yang kerap membawa nama Indonesia ke dunia internasional itu, juga tengah sibuk memperkuat sekolah musik anak-anak The Resonanz Children Choir.
“Jadi, doakan saja semuanya lancar,” kata dia menutup pembicaraan.
Rabu, 16 April 2008
soal musik klasik nihhh
Musisi Klasik Masih Gengsi Masukkan Unsur Folklore
Dibandingkan dengan musisi-musisi klasik dunia, musisi klasik Indonesia dinilai masih gengsi mengangkat musik folklore dalam negeri. Padahal, jika musik folklore dimasukkan dalam komposisi klasik, hasilnya akan luar biasa dan mengangkat budaya Indonesia di mata asing.
Pernyataan itu terungkap dari pianis Ananda Sukarlan dalam sebuah diskusi di Jakarta belum lama ini. Dalam diskusi itu juga terungkap bahwa musisi klasik Australia pun sangat menghargai musik folklore (musik rakyat) Indonesia. Ini terbukti dari aransemen musik mereka yang terpengaruh oleh gamelan Jawa dan angklung Sunda.
“Mereka saja bisa, mengapa kita malah gengsi memasukkan unsur musik kita sendiri ke musik klasik yang notabene dari barat?” tutur Ananda yang dikenal concern terhadap musik lokal itu.
Ananda menambahkan, musik Indonesia harus menjadi tuan di negeri sendiri. Pasalnya, jelas dia, musik Indonesia tak kalah dengan musik-musik dari luar. AS dan Jepang, misalnya, memiliki jenis musik klasik sendiri. Dalam arti, ada penggabungan antara unsur folklore negeri mereka dengan aransemen klasik.
“Jangan sampai kita seperti Singapura dan Malaysia yang mendatangkan musisi-musisi klasik dari Barat, yang tidak mengetahui sama sekali mengenai musik lokal. Ini bisa terlihat dari hall-hall untuk pertunjukkan klasik mereka yang hanya dipenuhi oleh musisi Barat, nggak ada musisi lokalnya sama sekali” tegas dia.
Menurut dia, ini mengerikan karena jika tidak ada penggabungan itu, maka identitas lokal bisa hilang. “Jadi jangan gengsi memasukkan unsur folklore dalam musik klasik, karena ini penting untuk menjaga identitas kita,” tutur pria yang menelurkan Nusantara Symphony itu.
Seni Tidak Instan
Dalam diskusi itu kembali diperdebatkan mengenai bagaimana memasyarakatkan musik klasik kepada masyarakat secara luas. Pasalnya, saat ini masyarakat masih sulit menerima musik klasik. Di sisi lain, mereka seperti terbius oleh musik-musik yang memiliki teknik musik yang dangkal dan tidak memiliki kedalaman.
Musik-musik semacam ini, kata Ananda, cepat diterima dan diperdengarkan (langsung enak didengar), tapi cepat juga dilupakan. Di sisi lain, kendati musik klasik sulit diterima telinga sebagian besar orang, tetapi memiliki keabadian.
“Ini karena kedalaman musiknya. Memang pertama-tama sulit mendengar musik klasik. Tapi lama-kelamaan, musik ini memberi impact yang bagus,” tutur dia.
Dedy Panigoro, penggemar musik klasik sekaligus pendukung konser-konser Ananda mengatakan, musik klasik yang termasuk dalam seni, bukan suatu yang bisa berkembang secara natural. Dalam arti, jelas dia, memang harus diedukasi kepada masyarakat. Konser-konser yang dilakukan musisi klasik seperti Ananda adalah salah satu cara untuk edukasi itu.
“Menurut saya, yang instant-instan itu bukan seni. Seni butuh usaha untuk memasyarakatkannya,” tegas dia.
Keduanya berharap, musik klasik lambat laun bisa diterima oleh telinga masyarakat Indonesia, dan ikut ‘meramaikan’ seni Tanah Air. (ovi)
Dibandingkan dengan musisi-musisi klasik dunia, musisi klasik Indonesia dinilai masih gengsi mengangkat musik folklore dalam negeri. Padahal, jika musik folklore dimasukkan dalam komposisi klasik, hasilnya akan luar biasa dan mengangkat budaya Indonesia di mata asing.
Pernyataan itu terungkap dari pianis Ananda Sukarlan dalam sebuah diskusi di Jakarta belum lama ini. Dalam diskusi itu juga terungkap bahwa musisi klasik Australia pun sangat menghargai musik folklore (musik rakyat) Indonesia. Ini terbukti dari aransemen musik mereka yang terpengaruh oleh gamelan Jawa dan angklung Sunda.
“Mereka saja bisa, mengapa kita malah gengsi memasukkan unsur musik kita sendiri ke musik klasik yang notabene dari barat?” tutur Ananda yang dikenal concern terhadap musik lokal itu.
Ananda menambahkan, musik Indonesia harus menjadi tuan di negeri sendiri. Pasalnya, jelas dia, musik Indonesia tak kalah dengan musik-musik dari luar. AS dan Jepang, misalnya, memiliki jenis musik klasik sendiri. Dalam arti, ada penggabungan antara unsur folklore negeri mereka dengan aransemen klasik.
“Jangan sampai kita seperti Singapura dan Malaysia yang mendatangkan musisi-musisi klasik dari Barat, yang tidak mengetahui sama sekali mengenai musik lokal. Ini bisa terlihat dari hall-hall untuk pertunjukkan klasik mereka yang hanya dipenuhi oleh musisi Barat, nggak ada musisi lokalnya sama sekali” tegas dia.
Menurut dia, ini mengerikan karena jika tidak ada penggabungan itu, maka identitas lokal bisa hilang. “Jadi jangan gengsi memasukkan unsur folklore dalam musik klasik, karena ini penting untuk menjaga identitas kita,” tutur pria yang menelurkan Nusantara Symphony itu.
Seni Tidak Instan
Dalam diskusi itu kembali diperdebatkan mengenai bagaimana memasyarakatkan musik klasik kepada masyarakat secara luas. Pasalnya, saat ini masyarakat masih sulit menerima musik klasik. Di sisi lain, mereka seperti terbius oleh musik-musik yang memiliki teknik musik yang dangkal dan tidak memiliki kedalaman.
Musik-musik semacam ini, kata Ananda, cepat diterima dan diperdengarkan (langsung enak didengar), tapi cepat juga dilupakan. Di sisi lain, kendati musik klasik sulit diterima telinga sebagian besar orang, tetapi memiliki keabadian.
“Ini karena kedalaman musiknya. Memang pertama-tama sulit mendengar musik klasik. Tapi lama-kelamaan, musik ini memberi impact yang bagus,” tutur dia.
Dedy Panigoro, penggemar musik klasik sekaligus pendukung konser-konser Ananda mengatakan, musik klasik yang termasuk dalam seni, bukan suatu yang bisa berkembang secara natural. Dalam arti, jelas dia, memang harus diedukasi kepada masyarakat. Konser-konser yang dilakukan musisi klasik seperti Ananda adalah salah satu cara untuk edukasi itu.
“Menurut saya, yang instant-instan itu bukan seni. Seni butuh usaha untuk memasyarakatkannya,” tegas dia.
Keduanya berharap, musik klasik lambat laun bisa diterima oleh telinga masyarakat Indonesia, dan ikut ‘meramaikan’ seni Tanah Air. (ovi)
Selasa, 15 April 2008
Liputan Duran Duran...Just read... ;p
Memori ’80-90s Bersama Duran-Duran
Ovi Oktaviani
Siapa yang tidak kenal dengan bait-bait lagu Come Undone yang berbunyi,
Mine immaculate dream made breath and skin I’ve been waiting for you
Signed with a home tattoo happy birthday to you was created for ya? Atau, petikan-petikan Hungry Like The Wolf, Rio, Notorious, atau Save The Prayer, lagu-lagu yang mewarnai dunia musik 80an?
Ya, band new wave, pop/rock Duran-Duran pada Selasa (8/4) di Plennary Hall, JCC menghentak fans yang kebanyakan ‘datang’ dari era ‘jadul’ 80-90an. Sekitar 3.000an fans tumplek di ruangan seluas 921 m2 itu. Mereka tampak tak sabar ketika detik-detik jam mulai mendekati pukul 21.00, waktu dimulainya konser band kesayangan mereka.
Simon LeBon (vokalis) dan kawan-kawan mengawali konser dengan tembang The Valley, sembari di sela konser dia menyapa Jakarta. Tanpa jeda, Simon meneruskan dengan Hungry Like The Wolf, sebuah tembang yang cukup memiliki andil dalam mengantar Duran-Duran menuju puncak kesuksesan.
Pada lagu selanjutnya, band kesayangan Putri Diana ini membawakan Planet Earth yang memiliki intro cukup panjang dari dentuman drum Roger Taylor. Saat lagu berjalan, Simon sempat mengajak penonton untuk bertepuk tangan, yang langsung disambut dengan antusias oleh penonton.
Tembang-tembang selanjutnya adalah tembang-tembang baru Duran-Duran dalam album Red Carpet Massacre, seperti Falling Down dan Nite Runner. Album ini dirilis akhir tahun lalu dan tur ini sendiri adalah bagian dari perkenalan album baru mereka.
Saat jumpa pers Selasa siang, pembetot bas John Taylor mengatakan dalam album yang dirilis pada 2007 itu Duran Duran bekerjasama dengan musisi Amerika Serikat Timbaland dan Justin Timberlake. Pada album tersebut Timberlake turut menyumbangkan suara dalam dua lagu yakni Falling Down dan Nite Runner."Salah satu hal terbaik bagi kami memiliki album baru adalah ketika kita melakukan tur dan menyanyikan lagu-lagu baru pada konser di depan penggemar kami. Sangat menyenangkan dan alasan ini juga yang mendorong kami membuat album baru lagi," timpal Simon.
Come Undone
Kembali ke konser. Penonton terlihat riuh ketika intro lagu Come Undone dimainkan oleh permainan kibor synthenizer Nick Rhodes. Pikiran penonton tampak melambung ke era 90-an ketika lagu ini merajai radio-radio dan stasiun TV Tanah Air.
Come Undone menjadi lagu ke-8 konser yang bertajuk An Evening with Duran-Duran itu. Union of The Snake, The Reflex, A View To Kill (OST film 007 A View To Kill) berturut-turut dilantunkan oleh Simon yang kemampuan vokalnya tampak tak berubah itu.
Pada lagu ke-12, Simon dan teman-teman mendendangkan lagu fenomenal mereka yang lain seperti Notorius dan Save The Prayer. Lagu-lagu lawas ini kemudian ditimpali dengan lagu baru seperti Skin Divers, Tempted dan Girls on Film.
Sound Kurang
Kendati penggemar Duran-Duran tampak dipuaskan oleh konser band favorit mereka, beberapa dari mereka mengeluhkan sound yang kurang oke. Gitar John Taylor dan additional player tampak tak mampu mengimbangi primanya vokal Simon.
“Sound-nya kurang oke. Secara musik mereka tampak kurang, apalagi di lagu Ordinary World. Lagu ini kedengaran seperti dari mesin saja,” tukas Jaka (31 tahun) yang mengaku penggemar berat Duran-Duran. Pria yang juga mengaku update dengan produk Duran-Duran ini mengatakan, kekuatan Simon tidak dibarengi dengan kemampuan gitar dan alat musik lain. “Tapi Nick Rhodes tetap main bagus sih,” ujarnya.
Kurangnya kualitas gitar ini memang tampak terlihat ketika gitaris additional player terus melakukan adjustment pada senar-senar gitarnya. Ini tanda gitar tidak berfungsi dengan baik, yang akhirnya menghasilkan performa konser yang tidak maksimal pula.
Bagaimanapun, penggemar Duran-Duran di Indonesia Selasa malam itu terpuaskan setelah empat tahun berselang tidak melihat band kesukaan mereka (Duran-Duran terakhir datang ke Indonesia pada 2004). Pada konser kali ini, Duran-Duran hadir dengan empat personil, yakni Simon LeBon (vokal), Nick Rhodes (kibor), John Taylor (bass) dan Roger Taylor (drum).
Meski sempat gonta-ganti personil, hal itu tidak mempengaruhi keutuhan Duran-Duran. Buktinya selama tiga dekade malang melintang di industri musik dunia, Duran-Duran telah berhasil menempatkan 21 lagu mereka di tangga lagu Billboard Hot 100 dan 30 lagu di deretan Top 40 Inggris. Penjualan album mereka itu pun mencapai angka 85 juta keping. Selain itu, Duran-Duran juga telah menerima beragam penghargaan, seperti Lifetime Achievement Award versi MTV Video Music Award pada Agustus 2003. Setelah Jakarta sebagai negara pertama di Asia yang dikunjungi Duran-Duran, band ini akan melanjutkan tur dunia ke Manila, Hongkong, Tokyo, Korea, dan Amerika Serikat. Konser ini sendiri telah mematok harga 750 ribu untuk kelas festival, 1, 5 juta untuk VIP dan 2 juta untuk VVIP.
Ovi Oktaviani
Siapa yang tidak kenal dengan bait-bait lagu Come Undone yang berbunyi,
Mine immaculate dream made breath and skin I’ve been waiting for you
Signed with a home tattoo happy birthday to you was created for ya? Atau, petikan-petikan Hungry Like The Wolf, Rio, Notorious, atau Save The Prayer, lagu-lagu yang mewarnai dunia musik 80an?
Ya, band new wave, pop/rock Duran-Duran pada Selasa (8/4) di Plennary Hall, JCC menghentak fans yang kebanyakan ‘datang’ dari era ‘jadul’ 80-90an. Sekitar 3.000an fans tumplek di ruangan seluas 921 m2 itu. Mereka tampak tak sabar ketika detik-detik jam mulai mendekati pukul 21.00, waktu dimulainya konser band kesayangan mereka.
Simon LeBon (vokalis) dan kawan-kawan mengawali konser dengan tembang The Valley, sembari di sela konser dia menyapa Jakarta. Tanpa jeda, Simon meneruskan dengan Hungry Like The Wolf, sebuah tembang yang cukup memiliki andil dalam mengantar Duran-Duran menuju puncak kesuksesan.
Pada lagu selanjutnya, band kesayangan Putri Diana ini membawakan Planet Earth yang memiliki intro cukup panjang dari dentuman drum Roger Taylor. Saat lagu berjalan, Simon sempat mengajak penonton untuk bertepuk tangan, yang langsung disambut dengan antusias oleh penonton.
Tembang-tembang selanjutnya adalah tembang-tembang baru Duran-Duran dalam album Red Carpet Massacre, seperti Falling Down dan Nite Runner. Album ini dirilis akhir tahun lalu dan tur ini sendiri adalah bagian dari perkenalan album baru mereka.
Saat jumpa pers Selasa siang, pembetot bas John Taylor mengatakan dalam album yang dirilis pada 2007 itu Duran Duran bekerjasama dengan musisi Amerika Serikat Timbaland dan Justin Timberlake. Pada album tersebut Timberlake turut menyumbangkan suara dalam dua lagu yakni Falling Down dan Nite Runner."Salah satu hal terbaik bagi kami memiliki album baru adalah ketika kita melakukan tur dan menyanyikan lagu-lagu baru pada konser di depan penggemar kami. Sangat menyenangkan dan alasan ini juga yang mendorong kami membuat album baru lagi," timpal Simon.
Come Undone
Kembali ke konser. Penonton terlihat riuh ketika intro lagu Come Undone dimainkan oleh permainan kibor synthenizer Nick Rhodes. Pikiran penonton tampak melambung ke era 90-an ketika lagu ini merajai radio-radio dan stasiun TV Tanah Air.
Come Undone menjadi lagu ke-8 konser yang bertajuk An Evening with Duran-Duran itu. Union of The Snake, The Reflex, A View To Kill (OST film 007 A View To Kill) berturut-turut dilantunkan oleh Simon yang kemampuan vokalnya tampak tak berubah itu.
Pada lagu ke-12, Simon dan teman-teman mendendangkan lagu fenomenal mereka yang lain seperti Notorius dan Save The Prayer. Lagu-lagu lawas ini kemudian ditimpali dengan lagu baru seperti Skin Divers, Tempted dan Girls on Film.
Sound Kurang
Kendati penggemar Duran-Duran tampak dipuaskan oleh konser band favorit mereka, beberapa dari mereka mengeluhkan sound yang kurang oke. Gitar John Taylor dan additional player tampak tak mampu mengimbangi primanya vokal Simon.
“Sound-nya kurang oke. Secara musik mereka tampak kurang, apalagi di lagu Ordinary World. Lagu ini kedengaran seperti dari mesin saja,” tukas Jaka (31 tahun) yang mengaku penggemar berat Duran-Duran. Pria yang juga mengaku update dengan produk Duran-Duran ini mengatakan, kekuatan Simon tidak dibarengi dengan kemampuan gitar dan alat musik lain. “Tapi Nick Rhodes tetap main bagus sih,” ujarnya.
Kurangnya kualitas gitar ini memang tampak terlihat ketika gitaris additional player terus melakukan adjustment pada senar-senar gitarnya. Ini tanda gitar tidak berfungsi dengan baik, yang akhirnya menghasilkan performa konser yang tidak maksimal pula.
Bagaimanapun, penggemar Duran-Duran di Indonesia Selasa malam itu terpuaskan setelah empat tahun berselang tidak melihat band kesukaan mereka (Duran-Duran terakhir datang ke Indonesia pada 2004). Pada konser kali ini, Duran-Duran hadir dengan empat personil, yakni Simon LeBon (vokal), Nick Rhodes (kibor), John Taylor (bass) dan Roger Taylor (drum).
Meski sempat gonta-ganti personil, hal itu tidak mempengaruhi keutuhan Duran-Duran. Buktinya selama tiga dekade malang melintang di industri musik dunia, Duran-Duran telah berhasil menempatkan 21 lagu mereka di tangga lagu Billboard Hot 100 dan 30 lagu di deretan Top 40 Inggris. Penjualan album mereka itu pun mencapai angka 85 juta keping. Selain itu, Duran-Duran juga telah menerima beragam penghargaan, seperti Lifetime Achievement Award versi MTV Video Music Award pada Agustus 2003. Setelah Jakarta sebagai negara pertama di Asia yang dikunjungi Duran-Duran, band ini akan melanjutkan tur dunia ke Manila, Hongkong, Tokyo, Korea, dan Amerika Serikat. Konser ini sendiri telah mematok harga 750 ribu untuk kelas festival, 1, 5 juta untuk VIP dan 2 juta untuk VVIP.
Langganan:
Postingan (Atom)