Rabu, 16 April 2008

soal musik klasik nihhh

Musisi Klasik Masih Gengsi Masukkan Unsur Folklore


Dibandingkan dengan musisi-musisi klasik dunia, musisi klasik Indonesia dinilai masih gengsi mengangkat musik folklore dalam negeri. Padahal, jika musik folklore dimasukkan dalam komposisi klasik, hasilnya akan luar biasa dan mengangkat budaya Indonesia di mata asing.

Pernyataan itu terungkap dari pianis Ananda Sukarlan dalam sebuah diskusi di Jakarta belum lama ini. Dalam diskusi itu juga terungkap bahwa musisi klasik Australia pun sangat menghargai musik folklore (musik rakyat) Indonesia. Ini terbukti dari aransemen musik mereka yang terpengaruh oleh gamelan Jawa dan angklung Sunda.

“Mereka saja bisa, mengapa kita malah gengsi memasukkan unsur musik kita sendiri ke musik klasik yang notabene dari barat?” tutur Ananda yang dikenal concern terhadap musik lokal itu.

Ananda menambahkan, musik Indonesia harus menjadi tuan di negeri sendiri. Pasalnya, jelas dia, musik Indonesia tak kalah dengan musik-musik dari luar. AS dan Jepang, misalnya, memiliki jenis musik klasik sendiri. Dalam arti, ada penggabungan antara unsur folklore negeri mereka dengan aransemen klasik.

“Jangan sampai kita seperti Singapura dan Malaysia yang mendatangkan musisi-musisi klasik dari Barat, yang tidak mengetahui sama sekali mengenai musik lokal. Ini bisa terlihat dari hall-hall untuk pertunjukkan klasik mereka yang hanya dipenuhi oleh musisi Barat, nggak ada musisi lokalnya sama sekali” tegas dia.

Menurut dia, ini mengerikan karena jika tidak ada penggabungan itu, maka identitas lokal bisa hilang. “Jadi jangan gengsi memasukkan unsur folklore dalam musik klasik, karena ini penting untuk menjaga identitas kita,” tutur pria yang menelurkan Nusantara Symphony itu.


Seni Tidak Instan

Dalam diskusi itu kembali diperdebatkan mengenai bagaimana memasyarakatkan musik klasik kepada masyarakat secara luas. Pasalnya, saat ini masyarakat masih sulit menerima musik klasik. Di sisi lain, mereka seperti terbius oleh musik-musik yang memiliki teknik musik yang dangkal dan tidak memiliki kedalaman.

Musik-musik semacam ini, kata Ananda, cepat diterima dan diperdengarkan (langsung enak didengar), tapi cepat juga dilupakan. Di sisi lain, kendati musik klasik sulit diterima telinga sebagian besar orang, tetapi memiliki keabadian.

“Ini karena kedalaman musiknya. Memang pertama-tama sulit mendengar musik klasik. Tapi lama-kelamaan, musik ini memberi impact yang bagus,” tutur dia.

Dedy Panigoro, penggemar musik klasik sekaligus pendukung konser-konser Ananda mengatakan, musik klasik yang termasuk dalam seni, bukan suatu yang bisa berkembang secara natural. Dalam arti, jelas dia, memang harus diedukasi kepada masyarakat. Konser-konser yang dilakukan musisi klasik seperti Ananda adalah salah satu cara untuk edukasi itu.

“Menurut saya, yang instant-instan itu bukan seni. Seni butuh usaha untuk memasyarakatkannya,” tegas dia.

Keduanya berharap, musik klasik lambat laun bisa diterima oleh telinga masyarakat Indonesia, dan ikut ‘meramaikan’ seni Tanah Air. (ovi)

Tidak ada komentar: