UPH Evening Concert,
Karya Indah Guru dan Murid
Musik adalah anugerah Tuhan. Musik membantu kita melantunkan pujian, mendendangkan perasaan senang, gembira bahkan juga sedih. Musik, sebuah medium paling cocok untuk mengekspresikan dan mewujudkan apa yang tidak bisa dinyatakan oleh media lain.
Bahkan, melalui musik, kesatuan pun bisa terjadi. Hal itu terjadi ketika guru dan murid sama-sama membuat harmonisasi di acara Music Fest 2008. Demikanlah Universitas Pelita Harapan menjadikan suatu malam yang khusus belum lama ini dalam bentuk UPH Evening Concert. Sebuah konser musik antara guru dan murid.
Fabiola Chaniago (piano), Andrea Yanuar (klarinet) dan Kim Dong Whan (selo) mengawali konser dengan membawakan komposisi Pria ch’ io l’impegno – Allegretto buah karya Beethoven, komposisi musik yang dipublikasi awal tahun 1798. Komposisi ini dimainkan pada Clarinet Trio di Bb-major dan memiliki kategori musik yang penuh semangat.
Piano Duet oleh Mamoru Yabuki dan Mina Yamauchi membawakan Hungarian Dance no.6 in’ pada Db-major karangan J. Brahms yang hidup antara 1833 – 1897. Duet antara dua guru yang sama-sama melayani di Fakultas Piano UPH Conservatory of Music itu kemudian dilanjukan dengan Le pas Espagnol karya Gabriel Faure.
Konser kemudian diisi oleh duet piano Nia Junaisih (piano) dan Ketut Kadensi (biola). Keduanya secara kompak membawakan Violin Sonata pada A major karya Cesar Franck. Komposisi musik ini dibuat pada 1886 dan didedikasikan untuk violis (pemain biola) Eugene Ysaye. Gabungan antara biola dan piano ini menghasilkan karya melodius layaknya suara manusia. Sementara suara piano dalam karya ini berfungsi mewakili dialektika yang terjadi di antara musik-musik ini.
Dr Johannes S. Nugroho melanjutkan pagelaran ini dengan membawakan Etudes d’execution transcendante no.4, Mazeppa dari F. Liszt. Pria yang menerima Doktor Musik di Universitas Indiana, Bloomington ini beberapa kali meraih penghargaan kompetisi piano tingkat internasional.
Allegro, ma non tanto dari Piano Quintett A-major karya Antonin Dvorak dibawakan masih oleh Johannes. Tapi kali ini denting paino Johannes ditimpali dengan gesekan biola Jane Ade Sutardjo, Amelia Tionada dam J. Suprapto dan selo Kim Dong Whan.
Jane Ade Sutardjo adalah pelajar di Dr. Sharon Eng dan anggota dari Jakarta Chamber Orchestra dan Nusantara Symphony Orchestra. Amelia Tionada selain masih terdaftar sebagai mahasiswa di UPH Conservatory of Music, juga menjadi anggota Dr. Sharon Eng dan Jakarta Chamber Orchestra bimbingan Avip Priatna dan Nusantara Symphony Orchestra.
Sementara Kim Dong Whan saat ini terdaftar sebagai anggota UPH Conservatory di Faktulas Cello dan Chamber Music. Dia juga anggota Lippo Karawaci Community Choir and Orchestra (LKCCO) dan Jakarta Chamber Orchestra (JCO)
Konser dilanjutkan dengan piano Benny M Tanto. Pria yang menjabat sebagai Direktur Bidang Gitar di UPH ini melantunkan karya Isaac Albeniz berjudul Sevilla.
Awalnya, karya ini ditulis Albeniz untuk dimainkan dengan menggunakan piano, khususnya di bagian kedua yang berjudul Suite Espanola. Impresi dari bagian-bagian komposisi khas Spanyol ini mengilustrasikan kejeniusan Albeniz dalam memotret bagian karakteristik ritmik sekaligus sekaligus memperlihatkan kejernihan telinganya dalam mendengar perubahan-perubahan kunci musik.
S Rachmaninoff yang menelurkan karya Etudes Tableaux Op.39 no.5 pada Eb-minor dibuat antara tahun 1916 – 1917. Rachmaninoff dikenal sebagai composer yang masih terpengaruh oleh tradisi Romantis abad 19. Dalam dua karya etude-nya ini, Rachmaninoff mengeksplorasi instrument dengan cara yang personal sekaligus cemerlang. Karya Rachmaninoff dibawakan oleh Mario Santoso, Kepala Departemen Musik UPH Conservatory of Music.
Marta J. Podolska yang menjabat sebagai guru piano UPH memainkan Tableaux Op.39 no.9 pada D-major Rachmaninoff, yang kemudian dilanjutkan dengan kolaborasi tenor Ridolf Hehanusa dan piano Mario Santoso. Mereka membawakan La Donna é Mobile karya G. Verdi (1813-1901) dari album Rigoletto.
Karya Mozart juga muncul pada konser ini melalui Konigen in der Nacht (Queen of the Night). Karya ini diambil dari Die Zauberflote, sebuah karya yang menggambarkan ketegangan perselisihan dan kebencian anak manusia. Musik ini mengalir perlahan tapi kemudian memuncak yang menyimbolkan intensitas perasaan dari drama yang dimainkan.
Delima Simamora membawakan karya Mozart ini dengan suara sopranonya dibarengi dengan piano Alfred Rony Situmorang.
Erlkonig, Op.1 garapan Franz Schubert (1797 – 1828) adalah karya yang diambil dari puisi Der Erlkonig oleh Johann Wolfgang von Goethe. Schubert menyusun puisi ini untuk suara solo dan piano pada 1815. ada empat karakter di sini, yakni: narator, ayah, anak dan Erl-King. Permainan ini diawali dengan bunyi piano yang dimainkan dengan oktaf cepat untuk menciptakan suasana horror, yang ditimpali dengan notasi berulang untuk menstimulasi suasana yang mencekam. Karya ini berakhir dengan tempo dramatic yang sempurna.
Karya Schubert ini dinyanyikan oleh Antonius Stanley Limandau dengan suara bariton diiringi dengan piano Alfred Rony Situmorang.
Dari Piano Quintett pada Eb – major , Op.44 karya R. Schumann, Allegro Brillante tercipta untuk istri Schumann, Clara. Karya ini juga dianggap sebagai masterpiece dari genre-nya. Karya ini dimainkan dengan awal yang kuat, yang kemudian melompat pada sepasang notasi yang lebih kuat lagi. Tekstur yang kaya ini sangat kental dengan kehangatan khas tradisi Romantik.
Alfred Rony Situmorang (piano), Diki Pradana (biola) dan Ketut Kadensi (biola), Michelle Siswanto (biola) dan Kim Dong Whan (selo) membawakan karya Schumann dengan apik sekaligus menutup konser Evening Concert UPH Conservatory of Music.
Jumat, 18 April 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar