Magenta Moviechestra, Perjalanan Musik Soundtrack dalam Industri Film Indonesia
Ovi Oktaviani
Tak pelak lagi, tujuan utama Andi Riyanto menggelar Magenta Moviechestra di Jakarta, Rabu (14/5) adalah untuk memperlihatkan betapa pentingnya musik dalam sebuah film. Andi seperti ingin memperlihatkan betapa tanpa musik, film terasa hambar. Musik memperkuat narasi sebuah film.
Hal itu pula yang ditulis Andi dalam catatan konsernya. Pria yang menggarap scoring untuk film Arisan itu menulis, musik dan film ibarat pasangan yang harmonis. Tak bisa dipisahkan satu dengan yang lain. “Itu pasti. Bayangkan jika Anda menonton film tanpa sedikit pun alunan musik. Betapa hambarnya film itu,” tulisnya.
Andi menambahkan, antara musik dan film, keduanya tidak ada saling intimidasi. Artinya, jelas Andi, baik film maupun musik berlenggang seirama.
Maka pada malam konser itu, terciptalah sebuah konser semi nostalgik. Konser tidak hanya menggaungkan soundtrack film-film abad 21, tapi juga menyusuri perjalanannya sejak 30 tahun lalu. Konser yang menggambarkan betapa musik dan film memiliki hubungan yang panjang dan akrab.
“Keintiman antara musik dan film memang telah terjalin di awal munculnya seni film pada permulaan abad ke-20. Saat itu peran musik seolah menyuarakan adegan demi adegan film yang tak bersuara di layar lebar. Indonesia sendiri sejak dasawarsa 50-an telah menampilkan ilustrasi musik yang indah dan padu,” ungkap Andi.
Andi mencontohkan film Tiga Dara yang dibesut mendiang Usmar Ismail. Film ini mendapat torehan musik nan indah buah karya Sjaiful Bachri. Atau film fenomenal Teguh Karya Badai Pasti Berlalu merasakan ‘kebesarannya’ melalui musik soundtrack garapan Eros Djarot. Soundtrack film ini bahkan diklaim oleh beberapa orang sebagai soundtrack yang menandai era baru musik Indonesia. Melalui karyanya ini, Eros beberapa kali mendapat penghargaan. Salah satunya Piala Citra kategori Tata Musik Terbaik (1978).
Soundtrack musik terus berlanjut mendapatkan tempatnya di industri film Tanah Air bersamaan dengan perkembangan industri itu sendiri. Film anak muda era 80-an Catatan Si Boy meledak bersama iringan musik karya Harry Sabar. Soundtrack film ini dinyanyikan dengan konotasi rock oleh Ikang Fawzi. Harry Sabar kembali menuai pujian melalui soundtrack ciptaanya berjudul Emosi Jiwa. Karya ini dilekatkan pada Catatan Si Boy 2 yang rilis 1988.
“Dalam konser Moviechestra ini saya dan Magenta Orchestra berupaya membuat semacam perjalanan musik score maupun soundtrack dari beberapa film yang menjadi representasi zamannya, termasuk soundtrack fenomenal karya Eros Djarot Badai Pasti Berlalu (1977). Konser saya juga memasukkan film-film yang pernah menjadi magnet pada dasawarsa 80-an, Catatan Si Boy (1987), Kejarlah Daku Kau Kutangkap (1985) hingga era sekarang ini: Arisan! (2003) atau Mengejar Matahari (2004),” tulisnya.
Konser Nostalgia
Badai Pasti Berlalu (BPB) menjadi pembuka konser malam itu. Andi yang didapuk untuk menggarap soundtrack versi terbaru film ini seperti tak bisa melepaskan diri dari nuansa klasikal sebagai ciri utama BPB. Untuk memperkaya film, Andi bahkan menambah sentuhan orkestrasi dan menyusunnya dalam bentuk medley. Selain BPB, Andi menambah musik Matahari dan Merpati Putih.
Saat musik dimainkan, layar yang digelar di atas panggung memperlihatkan potongan-potongan film BPB dan BPB versi 2007 karya Teddy Soeriaatmadja. Yang menarik, tiap kali potongan film lama diperlihatkan, penonton mengeluarkan suara surprise dan kekaguman. Beberapa berseru riuh.
Tak pelak lagi, konser ini seperti sebuah konser nostalgia bagi penonton dengan rentang usia 30an itu.
Sambutan penonton juga tampak antusias ketika potongan film Tante Sun diperlihatkan. Film yang dilengkapi soundtrack berlirik satir itu menampilkan adegan-adegan lucu dan karikatural. Dari awal hingga akhir film (dan konser tentunya), penonton terus menerus tergelak melihat aksi tante Sun. Tante Sun diperankan dengan baik oleh Tuti Mutia.
Nuansa nostalgia juga dirasakan kuat saat muncul potongan film Benyamin S diiringi lagu Kompor Meleduk dan Hujan Gerimis. Begitu pula Gita Cinta dari SMA dengan soundtrack Galih dan Ratna. Musik dimainkan dengan apik oleh Andi Rianto bersama 3 Diva.
Untuk film-film terbaru, Andi memilih soundtrack Cinta Terlarang untuk film Arisan, Mendadak Dangdut dengan soundtrack Jablai dan Mengejar Matahari untuk judul film yang sama.
Masalahnya, penggabungan antara layar film dan konser musik tampak menjadi “problem”. Perhatian penonton terbagi dua, antara film dan konser. Mereka seperti lebih tersedot oleh film dibanding konser itu sendiri. Ini terlihat dari reaksi penonton yang kerap muncul karena film dan bukan karena konser. Tapi yang pasti, konser Magenta patut diacungi jempol. Bagaimanapun, konser ini membawa nuansa lain di tengah derasnya arus teknologi dan modernitas dewasa ini.
Kamis, 15 Mei 2008
Langganan:
Postingan (Atom)