Rabu, 04 Juni 2008

les freres ferre, duo gitaris gipsi jazz

Les Freres Ferre
Sebuah Dialog dalam Musik Gipsi Jazz


Ovi Oktaviani


Dialog tidak melulu harus terjadi lewat kata-kata. Musik pun bisa mengambil peran kata untuk membangun dialog. Saling timpal lewat petikan gitar bisa menjadi ajang dialog yang indah dan menghanyutkan.

Freres Ferre atau Ferre bersaudara mewujudkan dialog ini saat konser di GKJ, Selasa (3/6)). Musik gipsi jazz menjadi pengaruh utama dalam musik dengan medium gitar tersebut.

“Musik kami kami analogikan sebagai sebuah dialog. Musik India adalah acuan kami dalam bermain, karena dalam musik ini sering terjadi dialog. Kami perhatikan, mereka suka memilih tema bersama dan bercakap-cakap dalam musik,” tutur Boulou Ferre, salah seorang dari Ferre bersaudara kepada wartawan usai konser.

Menurut Boulou, unsur dialog dalam musik India inilah yang menginspirasi mereka untuk berdialog di atas panggung.

Aksi dialog memang tampak ketika gitar Boulou ‘bersahut-sahutan’ dengan gitar Elios, saudara Boulou. Tak ada permainan gitar secara tunggal. Keduanya bermain dengan asik, tak ubahnya seperti dua orang yang sedang bercakap-cakap. “No singularity,” demikian ucap Boulou.

Menurut Elios, karena dialog ini pula, tidak ada genre musik tertentu yang mewarnai konser mereka. Mereka menyisipkan klasik, jazz, musik improvisasi keluarga mereka, pengalaman dan beberapa lagu dari penyanyi terkenal Perancis. Jadilah konser dipenuhi oleh improvisasi musik dan dari berbagai macam aliran.

“Kami tidak bisa membuat songlist dari konser kami, karena musik bagi kami mengalir seperti percakapan. Konser kami besok pun (hari ini) di Black Cat Senayan tidak bisa kami urutkan karena musik kami merupakan improvisasi,” jelas Elios.

Elios menambahkan, musik adalah suatu ekspresi dari sang musisi. Ketika musisi itu merasa senang, maka itu adalah ukuran keberhasilan musiknya. Musik harus ke luar dari hati. Karena prinsipnya ini, Elios tidak menampik jika musik disebut beraliran ekspresionis. “Mungkin benar, kami ekspresionis. Kami sama seperti seniman lain, seperti pelukis misalnya yang menuangkan perasaan mereka dalam kanvas. Mereka ingin berekspresi, kami pun juga ingin berekspresi,” tuturnya.

Dalam dialog pasti tercetus emosi. Entah itu marah, takut, resah atau yang lain. Ketika penonton ikut merasakan emosi yang musisi rasakan, itu pertanda positif.

“Musik bagi kami bukan suatu yang dipelajari, tapi suatu yang dirasakan. Entah itu perasaan takut, resah, takut. Dan ketika penonton ikut merasakan itu, itu suatu yang positif,” jelas Boulou. Penonton bagi kedua Ferre memiliki posisi penting dalam pertunjukkan mereka.

Selain musik hasil olah perasaan, improvisasi dan dari pengalaman, dua bersaudara ini memasukkan lagu La Vie en Rose dari penyanyi Edith Piaf, La Javanaise-nya Serge Gamsbourg dan Dis, Quand Reviandras Tu? penyanyi Perancis klasik Barbara.


Gipsi Perancis

Ketika ditanya mengapa musik gipsi, keduanya mengatakan bahwa gipsi adalah musik yang penting di Perancis. Selain itu, sejarah keluarga mereka yang ikut membentuk musik gipsi di Perancis mendorong mereka untuk tetap bermain musik tersebut.

“Bisa dibilang gipsi adalah musik asli Perancis. Lebih khusus lagi, kami bermain gipsi jazz yang tercipta dari dua keluarga, Reinhardt dan Ferre,” tukas Boulou.

Elios menimpali pernyataan saudaranya. Dia mengatakan, tak hanya Perancis, di banyak negara Eropa lainnya, musik gipsi memberi pengaruh cukup penting dalam perkembangan musik mereka.

Dalam sejarah musik gipsi Perancis, Django Reinhardt adalah gitaris gipsi kenamaan di negara tersebut. Bersama dengan Matelo Ferre, Reinhardt melestarikan dan memperbaharui gipsi jazz ala francaise sejak 40 tahun silam. Matelo Ferre sendiri adalah ayah dari Ferre bersaudara ini. Matelo pada masa mudanya kerap mengiringi Edit Piaf sebagai gitaris. Dan seperti diketahui, Edit Piaf dikenal sebagai penyanyi Perancis terkenal yang kisah hidupnya dituangkan dalam film La Vie en Rose. Dengan demikian, darah bermain gitar gipsi sudah mengalir di dua anak Ferre ini.

Baik Boulou maupun Elios optimitis, musik gipsi jazz akan tetap eksis di tengah perkembangan musik kontemporer saat ini. Mereka menjamin, musik ini akan tetap hidup selamanya karena keindahan yang ditawarkan dari petikannya.

Frere Ferre pada tahun 2006 meraih penghargaan Django d’Or untuk album mereka Parisian Passion. Selain berduet, kadang mereka memilih jalan sendiri-sendiri. Ketika yang satu bersolo karir, memainkan nada-nada khas Amerika, yang satunya lagi bertualang entah ke mana untuk sekedar mencari inspirasi dan pengalaman. Tapi ketika keduanya bersatu, harmonisasi musik tetap dihasilkan sempurna seperti konser di GKJ malam itu.

Tidak ada komentar: